BAB I
PENDAHULUAN
Ketidakmampuan individu beradaptasi dengan perubahan social yang cepat dan menimbulkan masalah social yang serba rumit dan kompleks, hal tersebut mengakibatkan timbulnya perasaan tidak mampu mengikuti zaman, rendah diri, terisolasi, ketakutan yang menahun, cemas, stress bahkan mungkin frustasi, akhirnya menimbulkan gangguan mental (Sunarjo : 2004) Gangguan mental merupakan bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental yang disebabkan oleh kegagalan mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap ekstern stimulus dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari satu bagian, satu organ, atau system kejiwaan/mental (Sunarjo : 2004) Prevalensi gangguan kesehatan jiwa di Indonesia menurut hasil Study Elbahar (1995) adalah 18,5% yang berarti bahwa dari 1000 penduduk terhadap sedikitnya 185 penduduk dengan gangguan jiwa atau tiap rumah tangga terhadap seorang anggota keluarga mengalami gangguan kesehatan jiwa mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat dan membutuhkan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat (Achir Yani S. Hamid, dkk : 2005) Keperawatan jiwa sebagai bagian dari kesehatan jiwa merupakan suatu bidang spesialis praktek keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri secara terapeutik sebagai kiatnya. Perawat jiwa dalam bekerja di tiap unit kerjanya memberikan stimulus konstruktif kepada system klien agar dapat belajar cara menyelesaikan masalahnya. Klien dengan perilaku kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga klien saat membawa keluarganya ke rumah sakit. Dengan melihat permasalahan tersebut maka klien dengan perilaku kekerasan dapat saja membahayakan dirinya sendiri, orang lain ataupun lingkungan sekitarnya bila tidak diatasi dengan segera.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Konsep Dasar Perilaku Kekerasan
-
Pendapat berbagai ahli tentang pengertian perilaku kekerasan yaitu :
- Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993 dikutip oleh Achir Yani S. Hamid, 2005)
- b. Kekerasan adalah kekuatan fisik yang digunakan untuk menyerang atau merusak orang lain. Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak adil dan sering mengakibatkan cedera fisik (Ann Isaacs, 2005)
- c. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Iyus Yosep ; 2007).
- 2. Penyebab
- a. Faktor Predisposisi Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan factor predisposisi, artinya mungkin terjadi/mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika factor berikut dialami oleh individu :
- 1. Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi penganiayaan.
- 2. Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.
- 3. Sosial budaya, budaya tertutup, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan control social yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima (permissive).
- 4. Bioneurologis, banyak pendapat bahwa kerusakan system limbic, lobus frontal, lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan. b. Faktor presipitasi Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik), keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian pula dengan situasi lingkungan yang rebut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan merupakan factor penyebab yang lain. Interaksi social yang provokatif dan konflik dapat pula memicu perilaku kekerasan. Stressor yang mencetuskan perilaku kekerasan bagi setiap individu unik. Stressor tersebut dapat disebabkan dari dalam maupun dari luar. Stressor yang dari luar antara lain ; serangan fisik, kehilangan, kematian, dan lain-lain. Sedangkan stressor yang berasal dari dalam adalah putus hubungan dengan orang yang berarti, kehilangan rasa cinta, ketakutan terhadap penyakit fisik dan lain-lain. Selain itu lingkungan yang terlalu rebut, padat, kritikan yang mengarah pada penghinaan, tindakan kekerasan dapat memicu perilaku kekerasan. Bila dilihat dari sudut perawat-klien, maka faktor yang mencetuskan terjadinya perilaku kekerasan terbagi dua yaitu - Klien : kelemahan fisik, keputusan, ketidakberdayaan, kurang percaya diri - Lingkungan : rebut, kehilangan orang/objek yang berharga, konflik interaksi social. (Iyus Yosep : 2007) c. Mekanisme Koping Klien mengatakan jika ada masalah kadang mengamuk menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya. d. Perilaku Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respons kecemasan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman. Bila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang, biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku yang destruktif, sehingga terjadi perilaku kekerasan yang ditujukan pada orang lain, lingkungan dan diri sendiri (Fefendi : 2008). 3. Rentang Respons adaptif dan Maladaptif Menurut Achir Yani S. Hamid, 2005 dalam buku Keperawatan Jiwa I Teori dan Tindakan Keperawatan Depkes RI bahwa respons kemarahan berfluktuasi sepanjang respons adaptif dan maladaptive. Respons adaptif respons maladaptive I I I I I Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk/ PK Perilaku asertif yaitu mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju tanpa menyalahkan orang lain, hal ini dapat menimbulkan kelegaan pada individu. Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respons pasif dan melarikan diri atau respons melawan dan menantang. Perilaku pasif merupakan perilaku individu yang tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan marah yang sekarang dialami, dilakukan dengan tujuan menghindari suatu tuntutan nyata. Agresif/perilaku kekerasan merupakan hasil dari kemarahan yang sangat tinggi atau ketakutan/panic. Agresif memperlihatkan permusuhan, keras dan mengamuk, mendekati orang lain dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain. Kekerasan sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol. Perilaku kekerasan ditandai dengan menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi kata-kata ancaman, melukai pada tingkat ringan sampai pada yang paling berat. Klien tidak mampu mengendalikan diri. Umunya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah Sakit Jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan pengawalan oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga. Penanganan oleh keluarga belum memadai, keluarga seharusnya mendapat pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien. 4. Tanda dan Gejala Menurut Tim keperawatan jiwa FIK-UI 1999 dalam buku kumpulan proses keperawatan masalah keperawatan jiwa dinyatakan bahwa tanda dan gejala yang diperlihatkan klien dengan perilaku kekerasan adalah sebagai berikut: a. Muka marah, pandangan tajam, mata melotot dan dipertahankan b. Otot tegang c. Nada suara tinggi, suara keras dan ngotot d. Berdebat e. Sering tampak klien memaksakan kehendak f. Merampas makanan g. Memukul jika tidak senang h. Isi pembicaraan biasanya menyombongkan diri, merendahkan orang lain i. Posisi badan kaku, condong ke depan j. Siap dengan jarak akan menyerang orang lain k. Penampilan mengancam, posisi menyerang Adapun perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan menurut Achir Yani S. Hamid, 2005 antara lain: a. Menyerang atau Menghindar (fight or flight) Pada keadaan ini respons fisiologi timbul karena kegiatan saraf otonom bereaksi terhadap rekreasi ephinephrin yang menyebabkan tekanan meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, mual, sekresi HCL meningkat, peristaltic gaster menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat disertai ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku dan disertai refleks yang cepat. b. Menyatakan secara asertif (assertiveness) Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis. Disamping itu perilaku ini dapat juga untuk pengembangan diri klien. c. Memberontak (acting out) Perilaku yang muncul biasanya disertai kekerasan akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik perhatian orang lain. d. Perilaku kekerasan Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. 5. Penanganan a. Korban kekerasan terhadap perempuan dan anak diperlakukan sebagai korban darurat dengan tidak membedakan status perkawinan, status social/ekonomi, agama, ras dan suku bangsa. b. Korban adalah pasien IGD Rs, sehingga seluruh prosedur administrasi dan medis di dalam IGD berlaku pada dirinya. c. Penanganan darurat medis didahulukan, namun dengan tetap tidak mengabaikan tindakan pendampingan psikis dan upaya pengumpulan bukti. d. Penanganan di PTT dilakukan setelah penatalaksanaandarurat medis selesai dilakukan. B. Konsep Dasar Proses Keperawatan Perilaku Kekerasan Proses keperawatan menurut Budi Anna Keliat, 2006 merupakan metode ilmiah yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan yang terdiri dari 5 tahap yang meliputi: pengkajian, rumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Kegiatan yang perlu dilakukan perawat adalah pengkajian data dari klien dan keluarga tentang tanda dan gejala serta faktor penyebab. Beberapa factor yang perlu dikaji pada klien perilaku kekerasan menurut Budi Anna Keliat, 2006 adalah sebagai berikut: a. Klien dibawa ke rumah sakit jiwa dengan alasan amuk, membanting barang-barang, gelisah, tidak bisa tidur, berendam di kamar mandi selama berjam-jam. b. Klien biasanya amuk karena ditegur atas kesalahannya c. Klien mengatakan mudah kesal dan jengkel d. Merasa semua barang tidak ada harganya e. Klien kelihatan sangat bersemangat, wajah tegang f. Muka merah ketika menceritakan masalahnya g. Klien merasa minder bila berada di lingkungan keluarga h. Klien mudah marah dan cepat tersinggung i. Klien selalu merusak lingkungan j. Klien tampak kotor, rambut kusut dan kotor, gigi kotor dan kuning k. Kuku panjang dan kotor, kulit banyak daki dan kering l. Klien mengatakan malas mandi m. Klien tidak mau mandi bila tidak disuruh dan mandi kalau perlu saja n. Sehabis mandi klien masih tampak kotor. 2. Masalah Keperawatan Menurut Budi Anna Keliat, 2006 masalah keperawatan yang sering terjadi pada klien perilaku kekerasan adalah : a. Resiko perilaku mencederai diri b. Perilaku kekerasan c. Gangguan konsep diri: harga diri rendah d. Gangguan pemeliharaan kesehatan e. Deficit perawatan diri, mandi dan berhias f. Ketidakefektifan koping keluarga: ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah g. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik
Judul: ASUHAN KEPERAWATAN PERILAKU KEKERASAN
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 09.38.00
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 09.38.00
0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar secara sopan mohon untuk tidak berkomentar spam terima kasih