Urolithiasis adalah terbentuknya batu (kalkulus) dimana saja pada sistem penyalur urine, tatapi batu pada umumnya terbentuk di ginjal. Batu mungkin terbentuk tanpa menimbulkan gejala atau kerusakan ginjal yang bermakna, hal ini terutama pada batu besar yang tersangkut pada pelvis ginjal. Makna klinis batu terletak pada kapasitasnya menghambat aliran urin atau menimbulkan trauma yang menyababkan ulserasi dan perdarahan, pada kedua kasus ini terjadi peningkatan predisposisi infeksi bakteri (Robbins, 2007 cit Wijaya dan Putri, 2013 : 249).
Sedangkan menurut Nursalam (2006: 65) menyebutkan bahwa urolithiasis merujuk pada adanya batu dalam sistem perkemihan. Sebanyak 60% kandungan batu ginjal terdiri atas kalsium oksalat, asam urat, magnesium, amonium, dan fosfat atau gelembung asam amino.
Toto Suharyanto dan Abdul Madjid (2009: 150) menjelaskan bahwa urolithiasis adalah suatu keadaan terbentuknya batu pada ginjal dan saluran kemih. Batu dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai ke kandung kemih dan ukurannya bervariasi dari deposit granuler kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih yang berwarna orange. Bahan-bahan yang dapat menjadikan batu saluran kemih meliputi :
1. Kalsium fosfat atau oxalate,
2. Purine derivative,
3. Amonium fosfat magnesium (struvite)
4. Cystein,
5. Kombinasi dari materi diatas, dan
6. Obat atau racun (phenytoin, triamterene)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa urolithiasis merupakan suatu penyakit yang mengenai sistem perkemihan yaitu adanya batu. Meskipun laki-laki mempunyai risiko lebih besar tetapi bukan berarti wanita terbebas dari penyakit tersebut.
B. Etiologi
Pada kebanyakan penderita batu saluran kemih tidak ditemukan penyebab yang jelas (idiopatik), akan tetapi ada beberapa faktor-faktor yang berperan pada pembentukan batu saluran kemih, dapat dibagi atas ;
1. Faktor endogen ; seperti faktor genetic-familial pada hipersistiuria, hiperkalsiuria primer dan hiperoksaluria primer.
2. Faktor eksogen ; seperti faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi, dan kejenuhan mineral dalam air minum.
3. Patogenesis dan patofisiologi.
C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala penyakit urolithiasis sangat ditentukan oleh letaknya, besarnya, dan morfologinya. Walaupun demikian penyakit ini mempunyai tanda dan gejala yang umum yaitu hematuria, dan bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan kelainan endapan urin bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lainnya. Gejala dan tanda yang utama dari adanya batu ginjal atau uretra adalah serangan nyeri hebat yang tiba-tiba dan tajam. Berdasarkan bagian organ yang terkena nyeri ini disebut kolik ureter atau kolik renal. Kolik renal terasa di regio lumbal menyebar ke samping dan ke belakang menuju daerah testis pada laki-laki dan kandung kencing pada wanita. Kolik uretra terasa nyeri di sekitar genitalia dan sekitarnya. Saat nyeri ditemukan mual, muntah, pucat, berkeringat, dan cemas serta sering kencing. Nyeri dapat berakhir beberapa menit hingga beberapa hari. Nyeri dapat terjadi intermiten yang menunjukan batu berpindah-pindah. Nyeri yang disebabkan oleh batu pada ginjal tidak selalu berat dan menyebabkan kolik kadang-kadang terasa nyeri tumpul atau terasa berat.
1. Batu pelvis ginjal
Tanda dan gejala yang ditemui adalah :
a. Nyeri di daerah pinggang (sisi atau sudut kostevertebral), dapat dalam bentuk pegal hingga kolik atau nyeri yang terus-menerus dan hebat karena adanya pielonefritis.
b. Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak ada, sampai mungkin terabanya ginjal yang membesar akibat adanya hidronefrosis.
c. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah arkus kosta pada sisi ginjal yang terkena.
d. Batu nampak pada pemeriksaan pencitraan.
e. Gangguan fungsi ginjal.
f. Pernah mengeluarkan batu kecil saat kencing.
2. Batu ureter
a. Kolik, yaitu nyeri yang hilang timbul disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah.
b. Nyeri alih yang khas ke regio inguinal.
c. Perut kembung (ileus paralitik).
d. Hematuria.
e. Pernah mengeluarkan batu kecil saat kencing.
f. Batu nampak pada pemeriksaan pencitraan.
3. Batu kandung kemih
a. Karena batu menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri.
b. Pada anak, menyebabkan anak tersebut menarik penisnya waktu BAK sehingga tidak jarang terlihat penis yang sedikit panjang.
c. Bila terjadi infeksi sekunder, maka selain nyeri sewaktu miksi juga terdapat nyeri menetap suprapubik.
d. Hematuria.
e. Pernah mengeluarkan batu kecil saat kencing.
f. Batu nampak pada pemeriksaan pencitraan.
4. Batu prostat
Pada umumnya batu prostat juga berasal dari air kemih yang secara retrograd.
5. Batu uretra
Batu uretra umumnya merupakan batu yang berasal dari ureter atau kandung kemih yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa ke uretra, tetapi menyangkut di tempat yang agak lebar. Gejala yang ditimbulkan umumnya sewaktu miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes dan nyeri. Penyulitnya dapat berupa terjadinya di vertikel, abses, fistel proksimal, dan uremia karena obstruksi urin.
D. Patofisiologi
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik dan dapat bersifat simtomatik ataupun asimtomatik. Ada beberapa teori terbentuknya batu, yaitu ;
1. Teori inti matriks
Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansia organik sebagai inti. Substansia organik ini terutama terdiri mukopolisakarida dan mukoprotein A yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk batu.
2. Teori supersaturasi
Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urin seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
3. Teori presipitasi kristalisasi
Perubahan pH akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urin. Pada urin yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin, asam dan garam urat, sedangkan pada urin yang alkali akan mengendap garam-garam fosfat.
4. Teori berkurangnya faktor penghambat
Berkurangnya faktor penghambat, seperti ; peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat, magnesium, asam mukopolisakarid akan mempermudah terbentuknya batu saluran kencing.
Faktor lain terutama faktor eksogen dan lingkungan diduga ikut mempengaruhi kalkugenesis, antara lain ;
a. Infeksi
Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kemih. Infeksi oleh bakteri yang memecah ureum dan membentuk amonium akan mengubah pH urin menjadi alkali dan mengendapkan garam-garam fosfat.
b. Obstruksi dan stasis urin
Adanya obstruksi dan stasis urin akan mempermudah terjadi infeksi.
c. Jenis kelamin
Data menunjukkan bahwa batu saluran kencing lebih banyak ditemukan pada pria. Ratio pria dan wanita yang mengalami urolithiasis adalah 4 : 1.
d. Ras
Batu saluran kemih lebih sering ditemukan di Afrika, dan Asia. Di Amerika Serikat, anak-anak berkulit putih sering terkena urolithiasis dibandingkan dengan anak kulit hitam.
e. Keturunan
Anggota keluarga yang menderita batu saluran kemih lebih banyak mempunyai kesempatan untuk menderita batu saluran kemih dari pada yang lain.
f. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi kemungkinan terjadinya batu, sedangkan bila kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah pembentukan batu. Kejenuhan air yang diminum sesuai dengan kadar mineralnya terutama kalsium dipekirakan mempengaruhi terbentuknya batu saluran kemih.
g. Pekerjaan
Pekerja-pekerja keras yang banyak bergerak misalnya buruh dan petani akan mengurangi kemungkinan terjadinya batu saluran kemih dari pada pekerja yang banyak duduk.
h. Makanan
Pada orang yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka mordibitas batu saluran kemih berkurang. Penduduk vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita batu saluran kemih.
i. Suhu
Tempat yang bersuhu panas, misalnya daerah tropis, menyebabkan banyak mengeluarkan keringat, akan mengurangi produksi urin dan mempermudah pembentukan batu saluran kemih.
Selain oleh kelainan bawaan atau cidera, keadaan patologik dapat disebabkan oleh infeksi, pembentukan batu di saluran kemih, dan tumor. Keadaan tersebut sering menyebabkan bendungan karena hambatan pengeluaran urin. Infeksi, trauma, dan tumor dapat menyebabkan penyempitan atau striktur uretra sehingga terjadi bendungan dan stasis yang memudahkan infeksi. Lingkungan stasis dan infeksi memungkinkan terbentuknya batu yang juga menyebabkan bendungan dan memudahkan infeksi karena bersifat sebagai benda asing. Infeksi biasanya meluas, misalnya sistitis menyebabkan penyulit berupa vesikulitis, epididimitis, bahkan sampai orkitis. Stasis urin, urolithiasis, dan infeksi saluran kemih merupakan peristiwa yang saling mempengaruhi. Secara berantai saling memicu, saling memberatkan dan saling mempersulit penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall. 2002. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Doenges E. Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC : jakarta.
Hudak & Gallo. 1996. Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik. Edisi VI. Volume II. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi Fisiologi untuk Paramedis. Penerbit PT Gramedia : Jakarta.
Weller, Barbara F. 2005. Kamus Saku Perawat. Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Terima kasih telah berkunjung ke Blog konsep medis urolitiasis semoga bermanfaat.
Judul: KONSEP MEDIS UROLITIASIS
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 22.37.00
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh 22.37.00
0 komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar secara sopan mohon untuk tidak berkomentar spam terima kasih